Hari sabtu, 3 desember 2005 adalah waktu perjalananku ke waduk Sempor untuk yang ke empat kalinya. Perjalanan kali ini tentu saja punya kesan yang berbeda dari perjalanan sebelumnya. Sebenarnya, ini adalah bagian dari proyeknya Argun dan Ari (FBio`01). Proyek “nguras waduk”, kalau boleh dibilang begitu. Karena yang kami lakukan hanya mengambil Lumpur dari dasar waduk dan nimba air pada kedalaman-kedalaman (jeluk) tertentu. Lumpur disaring untuk diamati keragaman bentosnya dan air waduk diambil untuk dicari planktonnya. Meskipun kulit jari-jariku jadi retak-retak dan keriput korban dari larutan natrium hidroksida, tapi secara keseluruhan hari itu bukan hari yang sia-sia bagiku.
Tim kami terdiri dari 6 orang, Argun, Ari, Didit, Putu, aku, dan Lutfi. (semuanya anak biologi angkatan 2001, kecuali aku, angkatan yang tertua di antara mereka). Sesungguhnya yang ingin kuceritakan di sini bukan tentang sampling, meskipun cukup seru. Ini tentang perjalanan. Perjalanan dari Jogja ke Kebumen dan sebaliknya.
Hari itu dimulai di pagi buta, bahkan pukul 3.30 WIB pun belum. Tiba2 Argun sudah memencet bel rumahku dan aku terkaget2 karenanya. Memang sih sudah janjian sebelumnya, tapi kupikir, seperti biasa, ngaret. Beberapa saat setelah ijin ibuku, kami berdua telah berada di jalan raya (jakal) yang sepi. Poll sepine. Nyenyet. Wadem, tapi terang benderang. Ngobrol2 dikit di atas motor, e…udah nyampe` kampus. Dan azan subuh pun terdengar. Aku segera tunaikan sholat subuh di mushola Al Hayat yang senyap, baru kemudian kumpul-kumpul bareng yang lainnya di base camp (kopma bio, btw kopma bio baru lo). ± setengah jam setelah subuh mobil colt putih (entah colt atau apa jenisnya, lupa. Yang jelas, mobil yang biasa dipakai untuk travel) udah datang untuk mengantar kami. Mas supirnya ternyata kakaknya Vrita (FBio`02). We..gile, kami berenam udah harus sport jantung di subuh hari. Pasalnya, masnya Vrita ternyata jago ngebut. Nyalip kanan, banting kiri, tapi emang lelaki ini sangat ligat mengendarai mobil. Ok banget. Cool lagi.
Dan, saat perjalanan pagi, kami melewati jalan yang biasa. Jalan umum, jalan wates, kulon progo, purworejo, dsb. Matahari pun belum bangun. Dingin man! Dan hujan. Ketika melewati kawasan antara Purworejo-Kebumen hujan mereda. Di sepanjang jalan terlihat arak-arakan bersepeda. O…ternyata anak-anak SMP dan SMA yang hendak berangkat ke sekolah. Kebanyakan pake seragam pramuka. Mereka kelihatan akrab dan cerah. Raut-raut wajah muda yang polos dan memancarkan semangat. Sesungguhnya, mereka itulah mutiara negri ini. Dan, perjalanan pun tetap dilanjutkan. Melewati bangunan-bangunan yang umum dijumpai di mana-mana. Tapi ada juga yang beda. Di Kebumen, hampir sepanjang jalan utama dijumpai pabrik genteng. Wu…pasti genteng di sana banyak banget. Liat aja. Bahkan untuk dinding dan pagar rumah juga pake` genteng yang ditumpuk-tumpuk. O iya, kata Didit, khasnya Kebumen itu: genteng, sate ambal, lanthing, dan burung walet (betul nggak Lel?).
Sekitar jam 7 kami tiba di waduk. Masih pagi banget. Kabut masih terlihat di perbukitan-perbukitan nun jauh di sana. Pohon-pohon di bukit2 yang tak berkabut terlihat hijau cerah seolah-olah tersenyum pada kami dan mengucapkan “selamat pagi”. Diantara pohon-pohon itu ada warna ungu atau merah dari bunga-bunga liar yang sudah mekar. Air danau terlihat tenang, dari kejauhan tampak seperti arsiran di permukaannya karena ada gelombang-gelombang kecil. Basa-basi sebentar di warung pinggir waduk, kemudian tawar menawar harga dengan tukang perahu langganan (pak Mirin), kami pun mulai sampling di 4 stasiun (nama masing-masing stasiun lupa!). Naik kapal. Menyenangkan! tapi terkadang juga panik kalau datanya keslimpet-slimpet. Jam 13.00 WIB sampling selesai. Sampling sebelumnya (2 minggu sebelumnya) baru mendarat pas maghrib. Kali ini cepat selesai, karena hanya melengkapi data yang kurang. Setelah itu, ke rumahnya Didit. Didit kan anak Kebumen. Lalu apa yang kita lakukan di sana? Ngerampok!!! Hehehe, enggak ding. Lha ibu-bapaknya Didit pas nggak ada. Trus Didit ngeluarin apa yang ada, ya….kita serbu dong. Kami juga menjarah mangga dan rambutan langsung dari pohonnya . Asyik banget. Pas ibu-bapaknya Didit pulang, ngeliat kami, kami cuma senyam-senyum kemalu-maluan, dan mereka pun menyikapi dengan ramah dan hangat. Tambah lagi, pulang-pulang masih disangoni pisang kepok 2 sisir besar (Untuk ibunya Didit, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan dan keiklasannya). Setelah itu kami berangkat lagi tanpa rasa bersalah. Pulang ke Jogja. Kali ini lewat jalur selatan. Beda banget. Sepanjang jalan cuma ada sawah dan sawa….h melulu. Setelah belok ke timur, sepanjang jalan nggak cuma ada rumpun padi saja, juga ada rumpun jagung, pohon cabe, ubi kayu, dan kalanjana memanjang sampai ke daerah pantai. Iju…… Sering kali di jalan kami berpapasan dengan pria-pria yang mengangkut segunung rumput yang baru di babat. Bener, segunung! Nggak banding sama sepeda atau motor tempat tunggangannya. Pria-pria itu hebat sekali menyeimbangkan berat sisi kanan dan sisi kiri supaya tidak oleng. Lebih hebat lagi yang naik sepeda. Otot-otot kakinya jelas terlihat mengeras dan kencang. Pun, di sawah juga tampak gambaran yang sama. Laki-laki dan perempuan desa menjiwai dengan sangat takdirnya sebagai petani. Kulit tembaganya mengkilap karena keringat yang tertimpa sinar matahari sore. Dan diantara kerut-kerut ketuaan terpancar kebersahajaan yang mengagumkan. Sayang sekali, pancaran seperti itu sudah jarang sekali ditemukan di sekitar kita, terlebih di perkotaan tempat kita tinggal ini. Di perjalanan, kami juga melewati Mirit, sebuah daerah di jalur selatan Kebumen. Kata Didit, Mirit itu daerah rawan. Hati-hati kalau melewati daerah itu, terlebih malam hari. Pemuda sana juga terkenal suka tawuran dengan orang2 dari Wonosobo. Tawurannya nggak disembarang tempat, melainkan di wilayah waduk Wadas lintang. Tawurannya juga bukan tawuran biasa, wah miris deh kalau mbayanginnya.
Sampai di daerah Wates (kalo nggak salah lo), lha kok beda? Dah nggak ada sawah yang membentang lagi menuju pantai. Cuma ada ladang-ladang tak produktif dan di antaranya ditanami pohon beton dan semen alias rumah penduduk. Tapi suasananya tetep masih asri, desa yang nampaknya cukup tentram dan damai. Perasaan menjadi kecut ketika sudah sampai di kota. Kalau kata Didit sih sampai di peradaban. Lho lho lho, emangnya peradaban itu selalu identik dengan semrawut, penuh bangunan dan kendaraan yang macet? sebenarnya arti peradaban itu sendiri apa sih?
Ok, cerita sedikit tentang tim Sempor kali ini ya. Didit. Mahasiswa Biologi angkatan 2001 ini adalah pemuda yang sangat ekspresif. Mengingatkanku pada seorang teman yang bernama Suryo Alam (alumni SMA 3 Joja & TP UGM`00). Ya gitu, mudah tertawa lebar dan berkacamata. Bedanya hanya anak ini lebih bundar dan rambutnya lebih keriting. Yang pasti, Didit ini banyak tau tentang daerah asalnya dan juga daerah-daerah lain yang pernah disinggahinya. Dia juga tidak pelit untuk membagi cerita padaku, meskipun daya tangkapku terhadap ceritanya terkadang cukup lemah. Dalam anggota tim kami yang juga cukup menonjol adalah Argun (Arif Gunawan), dia bisa dibilang ketua tim ini. Kesan pertama orangnya kalem. Tapi ternyata bisa rame dan tertawa lebar juga. Darinya aku jadi sedikit suka musik “campur sari”. Satu-satunya cewek yang menemaniku adalah Lutfi. Cewek ini suka cerita, gaya berceritanya jawa banget dan klaten banget. Kalau 2 cowok lain, Ari dan Putu, kalem tapi strong enough.
Ketika kami sampai di jogja yang bener bener Jogja, hujan deras menyambut kami. Dan ahirnya waktu menghentikan perjalanan ini.
(Sedikit terinspirasi dari buku Jalan Raya Pos Daendels nya Pramoedya Ananta Toer yang dipinjemin Lutfi (alumni MAN I YK & cah Sejarah UGM`00), diceritakan dengan tata bahasa tanpa aturan)
Jogjakarta, 10 Desember 2005.
Ayu Gemilang Sari